Jakarta — Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Depok, Dr. KH. Achmad Solechan, S.Si., M.S.i., berhasil mempertahankan disertasinya dalam Sidang Promosi Doktor Kajian Stratejik dan Global pada Rabu, 10 Desember 2025. Sidang berlangsung di Aula Lantai 5 Gedung IASTH, Kampus UI Salemba, Jakarta.
Dalam disertasi berjudul “Peran Internasional Nahdlatul Ulama dalam Relasi Antarbangsa Melalui Multi-Track Diplomacy: Pendekatan Konstruktivis Terhadap Organisasi Keagamaan Sebagai Non-State Actor”, Achmad memaparkan bagaimana NU telah menempatkan diri sebagai salah satu aktor transnasional paling berpengaruh dalam percaturan diplomasi global.
Sidang dipimpin oleh Ketua Penguji Prof. Dr. Drs. Supriatna, M.T., dengan Promotor Prof. Dr. Muhammad Luthfi dan Ko-Promotor M. Syauqillah, S.H.I., M.Si., Ph.D. Turut hadir para penguji: Prof. Yon Machmudi, S.S., Ph.D., Dr. Drs. Nurwahidin, M.Ag., Dr. Mulawarman Hannase, Lc., MA.Hum., M. Syaroni Rofii, S.H.I., M.A., Ph.D., Dr. Puspitasari, S.Sos., M.Si., serta Dr. M. Imdadun Rahmat, M.Si.
NU sebagai Aktor Diplomasi Global
Dalam pemaparannya, Achmad Solechan menegaskan bahwa organisasi keagamaan tak lagi dapat dipandang sebagai pemain pinggiran dalam diplomasi internasional. Menurutnya, NU telah menunjukkan kapasitas sebagai non-state actor yang mampu menjembatani dialog lintas bangsa, meredakan ketegangan, dan menawarkan arah moral dalam isu-isu global.
“NU, dengan kekuatan jaringan, nilai, dan jejak historisnya, terbukti tampil sebagai aktor transnasional yang mampu menjembatani dialog, meredakan konflik, dan menawarkan arah moral dalam isu-isu dunia,” ujarnya saat mempresentasikan disertasinya.
Penelitian yang menggunakan metode kualitatif dengan wawancara mendalam itu menyoroti praktik diplomasi NU dalam berbagai konteks, mulai dari mediasi konflik Afghanistan, kontribusi dalam isu Thailand Selatan, forum global R20, hingga advokasi kemanusiaan internasional.
Pria yang akrab disapa Kiai Alech ini menjelaskan bahwa nilai-nilai moderasi NU—seperti tawassuth, tasamuh, dan istiqamah—tidak hanya menjadi slogan, tetapi telah menjelma sebagai kerangka diplomasi. Nilai tersebut mewujud dalam aksi konkret yang dijalankan NU melalui berbagai jalur diplomasi, baik resmi, kultural, maupun melalui jaringan diaspora PCINU di berbagai negara.
Penelitian ini juga memotret berbagai tantangan yang dihadapi NU dalam kiprahnya di dunia internasional. Menurut Achmad, NU masih perlu memperkuat konsolidasi strategi global, meningkatkan kapasitas sumber daya, serta memaksimalkan peran diaspora.
Sebagai rekomendasi ilmiah, Achmad Solechan menawarkan sebuah kerangka konseptual baru bernama MiND Model (Multidimensional Non-State Diplomacy). Model itu berisi lima pilar utama—nilai, arena, humanitarian, multi dimensi, dan aksi—yang menjadi pedoman agar NU dapat memperkuat posisi diplomatiknya di masa depan.
Para penguji memuji kedalaman analisis dan kontribusi akademik yang dihasilkan disertasi ini. Penelitian Achmad Solechan dinilai mampu membuka ruang diskusi baru tentang diplomasi Indonesia dan mempertegas peran penting aktor non-negara dalam dinamika hubungan internasional.
Bagi Achmad Solechan, keberhasilan mempertahankan disertasi ini bukan semata pencapaian akademik. Ia menilai kajian tersebut mempertegas bahwa Indonesia memiliki modal besar dalam diplomasi berbasis nilai kemanusiaan dan moderasi beragama.
Penelitian ini, menurut Achmad, sekaligus menunjukkan bahwa kekuatan Indonesia di panggung global tidak hanya bertumpu pada negara, tetapi juga pada organisasi keagamaan yang memiliki legitimasi moral dan jejaring internasional yang luas.
Di tengah situasi global yang kerap dilanda krisis, disertasi tersebut menghadirkan optimisme baru: diplomasi damai, inklusif, dan berbasis nilai masih menjadi solusi—dan NU berada di garis depan upaya tersebut.


